Berdasarkan data dan catatan historiografi mengenai wilayah Pidie pada era Kesultanan Aceh Darussalam, berikut adalah rekonstruksi sejarah Gampong Keutumbu (Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie) berdasarkan bukti arkeologis dan artefak yang ada:
?Gampong Keutumbu merupakan salah satu kawasan permukiman tua di wilayah Pidie (Pedir). Wilayah ini berkembang pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, di mana Pidie berfungsi sebagai pusat komoditas lada, ketahanan pangan ( lumbung beras), serta pusat pendidikan keagamaan.
?Bukti paling otentik dari keberadaan Gampong Keutumbu pada era ini adalah keberadaan situs makam-makam kuno dengan batu nisan khas Aceh (Aceh Gravestones/Batu Aceh). Salah satu bentuk nisan unik yang ditemukan di wilayah ini memilik tipologi Sarbusy (tipe nisan yang menyerupai mahkota/tutup kepala pejabat atau ulama) serta motif mahkota berundak bertuliskan kaligrafi Arab/Jawi.
?Berdasarkan artefak batu nisan tersebut, tokoh-tokoh yang dimakamkan di Gampong Keutumbu diperkirakan meliputi:
?Sejak era Kesultanan hingga masa kolonial Belanda, Gampong Keutumbu terikat dalam sistem Kemukiman Sanggeue (salah satu mukim bersejarah di Pidie).
?Tatanan pemerintahan gampong dijalankan berdasarkan kombinasi tatanan syariat dan adat Reusam Gampong:
?Meunasah Gampong Keutumbu sejak dulu bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat peradaban lokal tempat musyawarah, pendidikan al-Qur\'an anak-anak, dan penampungan musafir.
?Pada masa Perang Aceh melawan Belanda (akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20), wilayah pemukiman di Kecamatan Pidie, termasuk Keutumbu, menjadi kawasan basis pendukung logistik dan gerilya para pejuang benteng Sanggeue dan sekitarnya. Karakteristik masyarakat yang agraris menjadikan gampong ini sebagai penyuplai bahan pangan bagi pejuang di pedalaman.
?Pasca-kemerdekaan RI dan pemberlakuan Otonomi Khusus di Aceh melalui Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA):